Showing posts with label Cerita Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Cerita Perjalanan. Show all posts

Friday, July 24, 2015

Fujian Normal University 福建师范大学

2 tahun yang lalu..... 

Keberuntungan membawa saya menuju Fujian Normal University (福建师范大学)untuk melanjutkan kuliah. 

2 Juli 2013. Saat pertama kali membaca e-mail pemberitahuan mengenai penerimaan beasiswa, rasanya tidak nyata. Mungkin sekitar 1-2 minggu pertama, saya sama sekali tidak berani memberitahu siapapun, bagaimana kalau ternyata email palsu? Atau salah baca? Atau... atau.... ada banyak kekhawatiran konyol di benak saya saat itu. Beberapa saat setelah pemberitahuan melalui email, paket berisi Admission Notice dan Visa Application (JW201) benar-benar ada di tangan saya. Berbagai kesibukan pun dimulai. Hahahahahaha, pengajuan visa, medical check-up, mencari guru pengganti untuk melanjutkan posisi saya di sekolah, booking tiket pesawat, mencari berbagai informasi dan berbagai macam persiapan. 2 bulan Juli dan Agustus di tahun 2013, berlalu bagaikan terbang. 2 bulan terakhir sebagai anak kost di BSD. 2 bulan dengan segala kekhawatiran dan harapan baru. 2 bulan penuh ketidakrelaan meninggalkan kota yang sudah ditinggali selama 5 tahun terakhir. 

31 Agustus 2013. Petualangan menuju kota Fuzhou dimulai. 

CGK — FOC itinerary

Saya berangkat dengan China Southern Airlines 388 yang lepas landas pukul 9:05, transit di Guangzhou Baiyun International Airport (广州白云国际机场 CAN)dan melanjutkan perjalanan ke Fuzhou dengan maskapai yang sama penerbangan 3877 lepas landas dari Guangzhou pukul 16:25. Ini adalah pengalaman transit yang pertama dan hampir membuat saya membenci bandara Baiyun (kesan saya terhadap bandara ini berubah di kemudian hari). Pada saat memilih penerbangan ini, saya berpikir waktu 1 jam 30 menit cukup untuk berpindah pesawat. Dan sama sekali tidak memperhitungkan bahwa penerbangan pertama akan delay, yaaa, tidak lama sih, hanya terlambat lepas landas kurang dari 30 menit, tapi ditambah dengan letak keberangkatan internasional dan domestik yang cukup berjauhan, saya masih harus mengambil bagasi dan check-in ulang untuk penerbangan selanjutnya menuju Fuzhou, pemeriksaan bandara Guangzhou yang cukup ribet (lebih karena saya terburu-buru, makanya pemeriksaan rutin semacam ini membuat saya sebal) dan juga nomor boarding gate yang ternyata tidak tertulis lengkap di boarding pass, membuat saya hampiiiiir ketinggalan pesawat. Untuk catatan di kemudian hari, saya selalu memilih jeda waktu yang cukup lama apabila harus transit. Untunglah, pada akhirnya saya sampai ke Fuzhou Changle International Airport (福州长乐国际机场 FOC)sekitar pukul 6 sore waktu setempat. 

Karena sudah sore dan jarak antara bandara menuju asrama lumayan jauh (paling tidak waktu itu rasanya jauh ^^), sebelumnya saya sudah booking hotel di dekat bandara. Stttt... ini rahasia ya, walaupun saya suka berpetualang sendirian, tapi sebenarnya saya paling takut perjalanan malam apalagi di kota asing. Xixixixixi... ini hanya perasaan pribadi saja sih, walaupun kenyataannya bepergian di siang hari tidak selalu lebih aman daripada bepergian di malam hari, tapi saya selalu memilih berpetualang pada saat masih ada matahari, kecuali di daerah yang saya sudah merasa nyaman. Karena alasan inilah,  saya rela mengeluarkan kira-kira 50 usd tambahan untuk bermalam di Flipport Inn Fuzhou Haibin (福州佰翔家海滨酒店)dan baru melanjutkan perjalanan menuju asrama keesokan harinya. Oh ya, letak hotel ini persis di seberang bandara, cukup jalan kaki melewati tempat parkir dan menyeberang jalan, jadi kalau anda kemalaman sampai Fuzhou, saya sarankan bermalam di hotel ini. 

Sebenarnya, saya baru tahu belakangan dari teman-teman sekelas, kita bisa minta dijemput di bandara dan diantar ke asrama (dikenakan biaya tentu saja). Hahahahaha... rasanya cuma saya yang tidak kepikiran bertanya mengenai hal ini ke pihak sekolah, tapi walaupun hanya bermodalkan google, saya tetap sampai dengan selamat kok! Mengenai antar-jemput ini, di asrama untuk mahasiswa asing ada bapak-bapak (atau om?), biasanya kami memanggilnya 叔叔 shūshu, beliau bersedia menjemput atau mengantar para mahasiswa ke bandara, tarifnya (kabarnya) berbeda-beda tergantung sudah kenal atau belum, hahahahahhaa, tapi kira-kira 260-300 RMB. 

Keberangkatan saya kali ini, rasanya cukup menguras air mata. Hahahaha, setelah dua hari sebelumnya menangis saat perpisahan dengan rekan-rekan kerja di sekolah, padahal biasanya saya cukup tak berperasaan saat acara perpisahan apapun loh. Menangis saat menunggu boarding di Soetta, menangis saat pesawat lepas landas, saat pesawat mendarat, mengis lagi saat pesawat lepas landas di Baiyun menuju Fuzhou, dan berakhir dengan menangis panjang sesampainya di Fliport Haibin Hotel. Hahahahahaha.... dipikir sekarang, saya di waktu itu kok sensitif ya....... 

1 September 2013. Petualangan lanjutan.... 
Transportasi dari dan menuju Bandara Changle Fuzhou, sebenarnya cukup mudah. Dari Changle ada bis bandara (福建空港快线运输 ini nama panjangnya), untuk informasi bandara ini tidak terlalu besar, jadi setelah keluar dari bandara pasti akan langsung melihat deretan bis dan taksi, untuk menuju Fujian Normal University, naik bis yang menuju hotel Apollo (阿波罗站), hotel ini adalah pemberhentian terakhir bis bandara, tarif per penumpang 25 RMB. 

Dari hotel Apollo, bisa memilih naik taksi (sekitar 20 RMB), cukup bilang mau ke 师大 Shida,上山路 (nama jalannya). Kalau bahasa Mandarin kalian masih terbatas, bisa juga mempersiapkan kertas yang tertulis alamat lengkap, sebaiknya alamat menggunakan bahasa Mandarin, jangan bahasa Inggris. Kampus FJNU ini ada 2 tempat, kampus baru (新校区)dan kampus lama(旧校区), para mahasiswa asing umumnya di kampus lama. 

Pilihan kedua, selain naik taksi adalah.... naik bis umum (公交车)dari halte yang berada di depan hotel Apollo(汽车站), dari tempat pemberhentian bis bandara, tidak perlu menyeberang jalan, kita bisa naik bis K1 dan turun di 师大站 (shīdà zhàn). Tarif bis di Fuzhou adalah 1 RMB, kalau pakai kartu tarifnya 0.8 RMB. 

Saya melakukan 2 kebodohan di pengalaman pertama naik bis di kota ini. Yang pertama adalah, karena sebelumnya sudah mati-matian menghafalkan alamat kampus, maka walaupun tahu saya harus turun di halte shīdà (师大站), entah kenapa pada saat bis sampai di halte perempatan Shàngsān (上三路口站 ), saya sok ide (kalau meminjam istilah para remaja), dan turun di halte ini. Memang sih, alamat kampus adalah di Jalan Shangsan, tapi dari perempatan jalan Shangsan menuju kampus Shida, masih ada 2 halte lagi. (_._") Hahahahahahaha... saat itu entah pengen nangis atau pengen tertawa. Bayangkan, dengan menarik satu koper seberat 20 kg, satu backpack dengan berat lebih dari 7 kg dan satu tas tangan, saya harus turun naik bis karena kebodohan diri sendiri.... (_._") aaaaaaarrrgggg...... Kebodohan kedua adalah, karena terlalu sibuk dengan barang bawaan, sama sekali tidak terpikir untuk bayar ongkos bis. Hahahahahahaaha, biasanya para penumpang naik dari pintu depan, ada tempat untuk memasukkan uang 1 yuan atau gesek kartu, tapi karena barang saya sulit dinaikkan lewat pintu depan, saya naik dari pintu belakang dan tidak bayar.... bukan sengaja, beneran deh, bukan sengaja ga bayar, sama sekali ga ingat dan ga kepikiran harus bayar. 2 kali naik bis, 2-2nya ga bayar. Xixixixixii..... Bis di Fuzhou sama sekali tidak ada kondektur atau pemeriksa karcis atau semacamnya, biasanya kalau bis sangat penuh dan tidak bisa naik dari pintu depan, para penumpang yang naik dari pintu belakang dengan kesadaran sendiri akan mengoper uang 1 yuan untuk bayar. 

Gerbang depan kampus lama FJNU
Setelah naik dan turun dan naik lagi dan turun lagi, kali ini di halte yang benar, saya mulai berjalan ke arah kampus FJNU, pas sampai di depan gerbang 师大,bertanya ke satpam ke mana mahasiswa asing harus melapor, ternyata kampus fakultas kami (海外教育学院)masih harus berjalan lagi kira-kira 200 meter dari gerbang depan shida. Dan, setelah akhirnya sampai di depan gedung kampus, saya baru sadar, kalau seharusnya saya pergi ke gedung asrama 吕振万楼 lǚzhènwàn lóu (海外学生公寓)bukan ke kampus.......... padahal jalanan menuju ke kampus agak menanjak.... padahal sudah naik tangga sambil angkat koper..... padahal barang bawaan total hampir 30 kg.... padahal..... (_._") dari depan gedung kampus, baru kelihatan ternyata gedung asrama mahasiswa asing 吕振万楼 lǚzhènwàn lóu ada tepat di seberang kampus......... Hahahahahahahahaha... ya begitulah.... tapi pada akhirnya di hari itu saya resmi menjadi penghuni gedung lǚzhènwàn. 



吕振万楼 Gedung Asrama Mahasiswa Asing dipotret dari gedung Heping (和平楼)

吕振万楼




海外教育学院

海外教育学院 dipotret dari gedung asrama mahasiswa asing

Sebagai ungkapan rasa syukur, bagaimana pun, saat dalam perjalanan, banyak orang yang saya kenal ataupun tidak saya kenal yang turut membantu. Saat di Bandara Fuzhou, karena tidak tahu hotel Haibin sedekat apa, saya hampir saja naik taksi, padahal hotelnya benar-benar berada tepat di seberang bandara Changle. Untung tidak sampai tertipu. Lalu saat menanyakan jalan menuju FJNU, di hotel beberapa orang dengan baik hati memberikan pendapat, bahkan si resepsionis hotel sampai membuatkan catatan rute bus, di jalan saat saya salah turun halte, seorang Ibu-ibu dengan baik hati membantu mengangkat koper berat saya, yang hampir tidak kuat saya angkat. Setelah turun di halte yang benar, saya masih harus berjalan kaki mencari lǚ lóu, saya salah jalan dan malahan ke arah kampus, seorang Ibu juga membantu saya mengangkat koper, lalu saat menyeberang jalan, seorang laki-laki membantu mendorong koper saya. Banyak sekali bantuan kecil maupun besar yang bahkan tidak saya sadari, telah memperlancar perjalanan saya dan membuat saya sangat terharu. Lalu, Lin Xiaoxia (林小霞)Ayi di gedung asrama juga banyak membantu saya mengurus sim card dan lain-lain. Suatu saat saya juga ingin bisa seperti mereka, memberikan bantuan yang walaupun sangat kecil, tapi sangat berharga bagi seseorang.

吕振万楼 617 


Daaaan 2 tahun yang memberikan berbagai kenangan pun dimulai.... yippppiiiii! \(>.<)/




Thursday, January 10, 2013

Sby - Tuban - Srg

Ini adalah cerita perjalanan akhir tahun 2012 si Bebek kecil selama 4 hari 3 malam di Surabaya, Tuban dan  Semarang. Sudah lama ingin menuliskannya secara detail, tapi akhir tahun lalu, rasanya Bebek sama sekali tidak punya energi lebih untuk menggerakkan jari-jari di atas keyboard. Yaaa, itu kalimat berlebih untuk mendefinisikan istilah "malas menulis". 

Pemandangan Kota Semarang dari kamar hotel Pandanaran


Tahap 1 : perencanaan 
  • Pemesanan Tiket Pesawat
Tahap awal perjalanan kali ini, tentu saja dimulai dengan niat. Setelah ada niat, barulah Bebek giat mencari tiket penerbangan yang semurah mungkin. Awalnya agak ragu juga dengan rute perjalanan, ke Semarang lalu ke Surabaya, atau sebaliknya. Setelah bertanya kepada mereka yang pernah ke beberapa tempat yang akan Bebek datangi, barulah Bebek memutuskan sebaiknya memesan tiket pesawat Jakarta-Surabaya, lalu dari Surabaya ke Tuban naik bis, Tuban ke Semarang juga naik bis, barulah pulangnya memesan tiket pesawat Semarang-Jakarta.


Maka pada tgl 15 September 2012, Bebek memesan tiket CGK-SUB dengan pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ 266 untuk tanggal 17 Desember 2012, seharga 390,000 IDR. Waktu penerbangan awal adalah lepas landas 11:05 dan mendarat 12:25. Tapi sehari sebelum penerbangan, pihak SA memundurkan waktu penerbangan mereka 2 kali, satu kali pemberitahuan dilakukan via telepon, dari 11:05 dimundurkan menjadi 11:15, lalu pada dini hari tgl 17, pihak SA mengirim pesan via sms, memundurkan waktu penerbangan menjadi 12:15. Setelah memesan tiket pergi, tanggal 18 September, Bebek memesan tiket pulang SRG-CGK juga dengan pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ 223 untuk tanggal 20 Desember 2012, pukul 18:25 -19:25, seharga 310,000 IDR. Seperti keberangkatan, pesawat pulang juga terlambat. (Kalau Bebek tidak salah ingat) Kami baru mulai boarding pada pukul 19:05.  
  • Tentang Hotel
Untuk pemesanan hotel, hotel pertama yang Bebek booking adalah Hotel Mustika. Memutuskan hotel mana yang akan Bebek pilih di kota Tuban sama sekali tidak menyulitkan, karena di kota Tuban, Bebek hanya berencana mengunjungi 1 tempat, yaitu Kelenteng Kwan Sing Bio, karena itu Bebek mencari hotel terdekat dengan kelenteng yang ingin Bebek kunjungi itu. Nah, jarak antara Hotel Mustika dengan Kelenteng Kwan Sing Bio (menurut google map) kurang-lebih 1 km. Bagi mereka yang tidak suka berjalan kaki, dari sekitar hotel ada banyak becak (menurut staf hotel, ongkosnya Rp 10,000). Tapi karena Bebek sangaaaat suka berjalan kaki, Bebek berjalan kaki pulang-pergi, sambil menikmati semilir angin di sepanjang Pantai Laut Utara. Oh ya, kamar yang Bebek tempati di Hotel Mustika adalah superior club double yang sebenarnya bisa untuk 2 orang. Ini kamar termahal yang bebek pesan (harga kamar 390,000 IDR + pajak 25% 81,900 IDR). Pemesanan Bebek lakukan melalui website booking.com. Sekedar pemberitahuan, kalau kita memesan kamar melalui booking.com, kita akan membayar biaya pada saat kita check-out, dan untuk pembatalan, biasanya kalau kita memberitahukan pembatalan sehari sebelum tanggal menginap, kita sama sekali tidak dikenakan biaya apapun (kebijakan biaya dan waktu pembatalan berbeda untuk setiap hotel, jadi sebaiknya dicek sebelum booking). Salah satu yang kurang menyenangkan dari Hotel Mustika, adalah hotel ini sangaaat sepi, karena pada saat Bebek menginap sepertinya bukan peak season, walaupun saat itu sudah masuk liburan sekolah, tapi yang menginap di hotel ini cenderung sedikit dibandingkan dengan banyaknya jumlah kamar mereka (menurut website hotel, mereka memiliki 120 kamar). Selain Bebek, ada rombongan dari satu perusahaan yang sedang menginap di sana. Tapi tetap saja, pada saat malam, karena Bebek menginap sendiri, rasanya sepiiiii..... dan kamar Hotel Mustika mengesankan kamar tua. Huhuhuhuhu...  
Mustika Hotel dan Restaurant Jl. Teuku Umar 3, Tuban, Jawa Timur. Telp (62-0356) 322 444 - 322 555; email: hotel-mustika@telkom.net
Superior Club Double kamar no 3935 - Hotel Mustika

Pemandangan dari depan kamar

Nah untuk hotel di Surabaya, Bebek akhirnya memilih The Square, karena lokasinya yang cukup dekat dengan Bandara Djuanda dan Terminal Purabaya. Sebenarnya tidak bisa dibilang dekat dengan Bandara Djuanda juga sih, karena kalau kita menggunakan taksi dari bandara ke The Square, karena jalan satu arah, kita jadi harus memutar cukup jauh. Tapi letaknya memang cukup dekat dengan Terminal Purabaya (kalau menggunakan taksi sekitar 20-30 ribu). Oh ya, The Square ini ternyata letaknya persis di depan Universitas Petra, kebetulan waktu masih kuliah, Bebek pernah mengikuti Lomba Cepat-Tepat Bahasa Mandarin di sana. Di The Square, Bebek memesan kamar deluxe single seharga 305,000 IDR (termasuk sarapan). Pemesanan The Square dilakukan melalui website Agoda, tarif hotel termasuk diskon 38%, berbeda dengan booking.com, melalui Agoda, pembayaran dilakukan di muka, kalau membatalkan dikenakan biaya 15% harga kamar (kebijakan ini berbeda untuk setiap hotel). Oh ya, awalnya Bebek agak kaget sih,  agak kurang menyenangkan juga, karena di hotel ini, pada saat check-in kita diminta uang jaminan sebesar Rp 200,000 yang dikembalikan pada saat kita check-out. Uang ini untuk menjamin pengunjung tidak merokok di dalam kamar (karena Bebek memesan kamar non-smoking), kalau kita menghilangkan kunci, dll. Tapi hotelnya sangat menyenangkan, bersih dan terang. Bebek selalu suka kamar yang mendapatkan sinar matahari langsung, jadi, The Square ini mungkin salah satu hotel favorit Bebek. Nasi goreng spesial yang Bebek pilih sebagai menu sarapan juga sangat enak. Nasi goreng khas Surabaya yang warnanya kemerahan, hehehe, kalau di Tangerang, nasi goreng kan biasanya warna coklat atau putih. Di lantai bawah hotel juga ada restoran, cafe, minimarket. Kalau anda (seperti Bebek) tipe yang malas keluyuran untuk mencari makan malam, hotel ini sangat cocok, karena untuk makan kita hanya perlu turun dengan lift. Hohoho...
The Square Jl. Siwalankerto No. 146 - 148, Rungkut, Surabaya. 

Deluxe Single - The Square
Deluxe Room - Hotel Pandanaran


Di Semarang, Bebek memilih Hotel Pandanaran (dipesan 3 hari sebelum keberangkatan), pemilihan hotel di Semarang sedikit lebih membingungkan, karena ada beberapa tempat yang ingin Bebek kunjungi di Semarang, Bebek jadi sulit memutuskan sebaiknya menginap di dekat mana. Hehehehe, akhirnya Bebek memutuskan hotel yang dekat dengan Bandara Ahmad Yani. Untuk pemesanan hotel ini Bebek juga menggunakan Agoda, kamar tipe Deluxe (tanpa sarapan) termasuk diskon 50% seharga 310,000 IDR. Bebek juga suka dengan kamar ini, bersih dan terang. Dilihat dari lokasi hotel, ternyata keputusan Bebek untuk menginap di sini sudah tepat, Hotel Pandanaran terletak di Jl Pandanaran, di antara Tugu Muda dan Simpang Lima. Dari depan hotel, ada angkot yang menuju tempat-tempat yang ingin Bebek kunjungi, walaupun harus ganti angkot 2-3 kali. 
Untuk perencanaan perjalanan kali ini, Bebek banyak bertanya kepada teman-teman Bebek, misalnya tentang rute bis dan angkutan umum, juga mengenai berapa lama kira-kira perjalanan. Bebek mengucapkan terima kasih yang sangat tulus kepada Mr A, Ms ML dan Ms H karena atas nasehat dan petunjuk dari merekalah Bebek bisa sampai ke tempat yang ingin Bebek kunjungi tanpa tersesat. ^^


Tahap 2 : pelaksanaan

Senin, 17 Desember 2012. Seperti yang telah Bebek ceritakan mengenai penundaan jadwal penerbangan, Bebek berangkat dari terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta kira-kira pada pukul 12:15, sangat disayangkan pada saat kami akan mendarat di Bandara Djuanda, di kota Surabaya sedang turun hujan disertai angin, sehingga pilot pesawat tidak jadi mendarat dan meneruskan penerbangan ke Denpasar. Di Bandara Ngurah Rai, pesawat menunggu kira-kira 45 menit sambil mengisi kembali bahan bakar. Setelah itu, barulah kami berangkat kembali ke Surabaya. Sampai di Surabaya kira-kira sudah hampir jam 5 sore (Bebek lupa tepatnya). Rencana Bebek di Sby menjadi kacau, karena sudah terlalu sore dan pada saat itu juga masih hujan, akhirnya Bebek memutuskan langsung saja ke The Square dengan taksi. Patung Buddha 4 wajah di daerah Kenjeran dan Kelenteng Hong Thek Hian batal Bebek kunjungi. Walaupun ini kunjungan ke dua Bebek ke Sby, tapi pada kunjungan pertama, Bebek sama sekali tidak ingat, karena waktu dulu (tahun 2005) hanya pergi ke Universitas Petra dan ke mana-mana kami menggunakan taksi. Jadi bisa dikatakan ini pertama kalinya Bebek berpetualang di Sby dan karena pergi sendirian, Bebek menghindari perjalanan di malam hari. Ehmm, sedikit tambahan cerita mengenai taksi, mungkin ini hanya prasangka Bebek sih, tapi argo taksi dari Djuanda ke The Square rasanya cepaaaaaat, huhuhuhuu.... sudah begitu, (mungkin sengaja, mungkin memang tidak tahu), si sopir taksi masih jalan terus waktu kami melewati The Square, untungnya Bebek pernah ke Petra, jadi waktu lihat gedung Petra, ingatan Bebek kembali, dan langsung lihat The Square. Dan selamatlah Bebek... ongkos taksi Djuanda - The Square kurang lebih 80,000 rupiah. Hikzz... Sampai The Square Bebek check-in, lalu cari makan malam di bawah hotel, Bebek makan mie Hokkian di House of Wok sambil chatting. Lalu kembali ke kamar, mandi, nonton TV, tidur. 

Selasa, 18 Desember 2012. Rencana awal sih, Bebek bangun jam 6 pagi, sarapan, lalu langsung berangkat ke Terminal Purabaya. Hehehehe, ternyata sarapan baru diantar jam 7:15, jadi setelah sarapan nasi goreng yang enak, Bebek berangkat ke Terminal Purabaya jam 8:00 dengan taksi karena lebih mudah. Catatan penting mengenai Terminal Purabaya, terminal yang terletak di Kecamatan Waru, Sidoarjo ini sangat teratur dan cukup bersih (dibandingkan dengan terminal lain di Tng dan Jkt yang pernah Bebek datangi). Menurut blog Terminal Purabaya merupakan terminal terbersih di Sby dan kemungkinan juga terminal terbesar dan tersibuk di Asia Tenggara. Papan petunjuk arah untuk penumpang dalam kota maupun luar kota sangat jelas, waktu keberangkatan bis dari terminal ini juga sangat tepat waktu dan di dalam terminal ada banyak petugas berseragam yang sangat membantu (membuat penumpang tidak takut bertanya ke orang yang salah). Bebek naik bis PO Sinar Mandiri Mulia trayek Sby - Tuban - Semarang yang berangkat pukul 8:30, harga tiket Sby - Tuban Rp 30,000. Bisnya cukup nyaman. Perjalanan Sby - Tuban, normalnya mungkin sekitar 2 jam, tapi karena hari itu sangat macet, Bebek baru sampai Tuban jam 11:30an. Bis Sby - Tuban - Srg ini seharusnya melewati depan Hotel Mustika, tapi lagi-lagi karena macet, sopir bis memutuskan lewat jalan lain, sehingga Bebek harus turun di tugu Tuban dan jalan kaki dari sana ke hotel, dari tugu ke Hotel Mustika tidak terlalu jauh, hanya berjalan lurus kurang dari 1 km (sepertinya). Trotoar di kota Tuban sangat lebar dan sepi, tidak ada pedagang kaki lima di sepanjang jalan. Hahahah... 
Sesampainya di kota Tuban, Bebek langsung check-in di Hotel Mustika, istirahat sebentar, cuci muka dll. Setelah itu, langsung menuju Kelenteng Kwan Sing Bio. Dari Hotel Mustika ke Kwan Sing Bio, jalan lurus ke arah utara di sepanjang Jl Teuku Umar (arah sebaliknya dari Tugu Tuban, kalau dari depan hotel berjalan ke arah kanan), sampai pertigaan belok kanan, ikuti Jl RE Martadinata. Kelenteng Kwan Sing Bio berada di sebelah kanan, tepat berhadapan dengan Pantai Laut Utara. Ulasan mengenai Kelenteng terbesar di Asia Tenggara ini sudah banyak ditulis di media massa ataupun blog, jadi (mungkin) Bebek tidak akan menuliskannya secara detail. 

Tugu Tuban

Kwan Sing Bio (関聖廟)

Di Kelenteng Kwan Sing Bio (関聖廟)ini untuk bersembahyang kita perlu membeli paket lengkap hio, lilin dan kertas seharga 17,000 rupiah. Karena dari kelenteng hanya menyediakan hio saja. Ini sedikit berbeda dengan kelenteng di Tangerang dan Jakarta pada umumnya, karena biasanya di daerah saya, perlengkapan sembahyang disediakan oleh pengurus kelenteng secara cuma-cuma dan kita hanya perlu berdana sukarela. Setelah   pasang hio kepada para Kongco, Bebek melakukan ciamsi, lalu melihat-lihat pemandangan taman di dalam kelenteng, sambil duduk bengong menikmati semilir angin. Dari kelenteng, Bebek makan siang di Cafe & Steak House Mustika yang terletak tidak jauh dari kelenteng, steak ayam di sini cukup enak. Selesai menikmati makan siang Bebek yang sangat terlambat itu (makan siang sekitar jam 3), Bebek berjalan kembali ke Hotel Mustika lagi-lagi sambil menikmati semilir angin Pantai Laut Utara. Bagian yang kurang menyenangkan adalah, di Kwan Sing Bio, Bebek tidak punya foto diri sendiri (yang cukup layak) dengan latar kelenteng sama sekali. Karena waktu Bebek datang, kelenteng agak sepi, jadi tidak ada pengunjung yang bisa Bebek mintai tolong untuk memotret. Hiiiik... >.<  

Pantai Laut Utara

Rabu, 19 Desember 2012. Setelah kurang menikmati sarapan yang disediakan hotel (bukan menunya yang tidak enak, memang Bebek yang kurang nafsu makan), Bebek berangkat menuju Semarang. Karena Bebek khawatir bis menuju Semarang akan lewat depan hotel atau tidak, Bebek memutuskan berjalan dulu ke tugu Tuban dan menunggu bis di sana. Hehehe, ternyata kekhawatiran Bebek berlebihan, bis patas PO Jaya Utama yang Bebek naiki lewat di depan hotel. Untuk menempuh perjalanan sekitar 200 km dari Tuban ke Semarang, Bebek membayar ongkos 55,000 rupiah. Bisnya cukup nyaman dan ada toilet di dalam bis. Ini pengalaman pertama Bebek memakai toilet di dalam bis. Bukan pengalaman yang menyenangkan pula. Hehehehe, susah sekali ternyata buang air di dalam toilet kecil bis yang melaju dengan kencang. Perjalanan dari Tuban ke Semarang ini memerlukan waktu sekitar 6-7 jam. Bebek sampai di Terminal Terboyo sekitar pukul 2 siang, disambut oleh hujan. Dari Terminal Terboyo, Bebek naik bis kecil (semacam kopaja atau metromini di Jakarta) yang menuju ke arah Tugu Muda. Dari Tugu Muda, Bebek jalan kaki ke Hotel Pandanaran. Oh ya, hari itu pun makan siang Bebek terlambat. Hehehehe, ternyata Bebek kurang merencanakan mengenai waktu makan. Akhirnya Bebek hanya membeli paket Spicy chicken di McD tidak jauh dari hotel. Setelah check-in dan menghabiskan makan siang yang terburu-buru, Bebek menuju Kelenteng Sam Poo Kong.
Dari Hotel Pandanaran ke kelenteng Sam Poo Kong, pertama menyeberang jalan, lalu naik angkutan umum rute Johor - Karang Ayu (angkotnya warna kuning strip putih, kalau tidak salah ingat nomor angkotnya 06), turun di Pasar Karang Ayu, lalu lanjut dengan angkot yang menuju Gedung batu, turun tepat di depan kelenteng Sam Poo Kong.
Seperti di Kwan Sing Bio, untuk bersembahyang di Kelenteng Sam Poo Kong, kita perlu membeli paket hio, lilin, kertas dan teh (tehnya akan kita bawa pulang setelah sembahyang) seharga 28,000 rupiah. Di dalam kelenteng, terdapat 3 (semacam) paviliun yang berdampingan dan satu tempat terpisah yang menyimpan jangkar (replika dari jangkar yang digunakan oleh Kongco Zheng He). Oh ya, di Kelenteng Sam Poo Kong kita juga bisa berfoto dengan kostum (mengingatkan Bebek dengan foto kostum putri kaisar seharga 100 Yuan di Guangzhou dulu, hehehehe...). Tapi karena tidak terlalu tertarik, Bebek tidak bertanya berapa harga satu foto kostum di sana. Karena sibuk berfoto, ehmm lebih tepatnya sibuk meminta tolong pengunjung lain untuk memoto Bebek (dan hampir seluruh hasil fotonya blur) dan sibuk mencari tempat untuk meletakkan kamera agar Bebek bisa berfoto dengan timer. T.T hikz... sedih sekali, di kelenteng ini Bebek juga hanya dapat sedikit foto diri sendiri. 

Kelenteng Sam Poo Kong



Tapi karena sibuk berburu foto pulalah, Bebek kemalaman. Seperti yang sudah Bebek singgung di atas, mengingat Bebek berpetualang sendiri, Bebek menghindari perjalanan malam hari, jadi batas waktu bermain hanya sampai matahari terbenam. Hanya dari kelenteng inilah Bebek melanggar rencana "selalu sudah di hotel saat matahari terbenam". Bebek baru mulai kembali ke hotel dari kelenteng Sam Poo Kong kira-kira jam 6:30, dan karena angkot kembali ke hotel tidak ada, daripada membuang waktu menunggu angkot, Bebek berjalan kaki kembali ke arah hotel, daaaaan ternyataaa... entah karena sudah malam atau memang angkot di sana agak sedikit, setelah Bebek berjalan kembali kira-kira 1/3 perjalanan, barulah ada angkot yang menuju Pasar Karang Ayu. Bebek jalan kaki! sendiri! malam-malam! Seru! 
Setelah bertemu angkot (akhirnya!), Bebek kembali ke Pasar Karang Ayu. Nah, waktu perginya Bebek tidak harus menyeberang jalan, tapi untuk perjalanan pulang, Bebek harus menyeberang di jembatan penyeberangan dulu, baru bisa naik angkot yang ke arah hotel. Dan inilah pengalaman pertama Bebek takut berjalan di jembatan penyeberangan, kenapa? Karena jembatan penyeberangannya bukan terbuat dari besi ataupun dari beton, tapi dari kayu. Iyaaaa, hanya tiang dan rangkanya saja yang terbuat dari besi, tempat berjalannya terbuat dari kayu, berlubang-lubang pula dan terasa sangat ringkih. >.< Kyaaaaa.... horooor. Setelah pengalaman itu, Bebek tetap selamat sampai hotel Pandanaran. 

Kamis, 20 Desember 2012. Hari terakhir! Awalnya ingin berangkat jam 7 pagi ke Pagoda Avalokitsvara Buddhagaya Watugong. Tapi, setelah petualangan kemarin malam yang sangat menyenangkan dan kasur Hotel Pandanaran yang sangat nyaman, membuka mata, mandi dan berkemas rasanya tidak semudah membalik telapak tangan. Huehehehehe... Akhirnya Bebek baru bangun sekitar jam 7, setelah bersiap-siap, Bebek check-out dari Pandanaran kira-kira jam 8 lewat. Walaupun check-out, karena masih akan mengunjungi Pagoda Avalokitsvara dan Lawang Sewu, Bebek menitipkan barang bawaan ke resepsionis hotel. Sebelum berangkat, karena di hotel ini Bebek memesan kamar tanpa sarapan, Bebek harus mencari tempat makan terlebih dahulu. Dari Hotel Pandanaran, Bebek berjalan kaki ke Simpang Lima (sebenarnya kita bisa angkot jurusan Karang Ayu - Johor dan turun di Simpang Lima). 
Singkat cerita, dari Simpang Lima,  Bebek naik angkot jurusan Karang Ayu - Johor (warna kuning strip putih), turun di Cipto dan sambung dengan angkot jurusan Watugong (warna orange strip biru tua di bawahnya), di Watugong sambung angkot lain sampai depan Pagoda Avalokitsvara. 


Pagoda Avalokitsvara

Pembelian perlengkapan sembahyang di Vihara Buddhagaya ini cukup unik. Pengurus vihara menyediakan beberapa jenis hio, lilin dan lain-lain dengan harga yang berbeda, dan pengunjung bisa memilih sendiri perlengkapan yang kita butuhkan, kemudian memasukkan uang dana ke dalam kotak yang disediakan. Apabila kita ingin membeli minuman juga dengan cara yang sama, ambil minuman sendiri di kulkas yang tersedia, di depan pintu kulkas tertera harga untuk jenis minuman yang disediakan, kemudian kita memasukkan uang ke dalam kotak lainnya khusus untuk barang-barang yang kita beli.

Setelah puas melihat-lihat lingkungan vihara, Bebek menuju Lawangsewu. Harga tiket masuk ke Lawangsewu adalah Rp 10,000 dan mereka menyediakan jasa tourguide dengan tarif Rp 30,000. Karena ini pertama kalinya Bebek mengunjungi Lawangsewu, Bebek setuju menggunakan jasa tour guide yang mereka sediakan. Si tour guide (Bebek lupa namanya) pernah tinggal di Lawangsewu semasa kecil, karena menurutnya Kakeknya adalah salah satu juru kunci di bangunan ini. Dan karena jasa si tour guide inilah Bebek berhasil mendapatkan banyak foto yang bagus dan tentu saja banyak cerita mengenai bangunan bersejarah tersebut. Huehehehe... 

Lawang Sewu

Setelah selesai melihat-lihat, berfoto dan bercerita dengan si tour guide, Bebek kembali ke Hotel Pandanaran untuk mengambil barang titipan dan bersantai sejenak di lobby hotel, karena saat itu lagi-lagi turun hujan. 
Sangat disayangkan pula, Bebek tidak sempat mengunjungi kelenteng tertua di Semarang, yaitu Kelenteng Tay Kak Sie, karena keterbatasan waktu dan juga letak kelenteng ini agak sulit dijangkau dengan angkot, kalau mau ke kelenteng yang berada di gang Lombok ini, paling mudah dengan menggunakan taksi. Akhirnya Bebek tidak jadi pergi (mungkin lain kali). Setelah bersantai sejenak di lobby hotel menunggu hujan berhenti, ternyata hujannya cukup awet, sehingga akhirnya Bebek memutuskan langsung saja ke Bandara Ahmad Yani dengan menggunakan taksi. Tarif taksi dari Hotel Pandanaran - Bandara Ahmad Yani kurang lebih 20-30ribu rupiah. 
Bandara Ahmad Yani bisa dikatakan agak kecil dan yang kurang menyenangkan adalah di toilet dalam bandara ini, banyak kran yang airnya tidak mengalir. Walaupun perjalanan dari hotel ke Bandara Ahmad Yani agak macet, tapi tetap saja Bebek menunggu cukup lama di sini karena keterlambatan penerbangan SA. 

Setelah penerbangan selama 50 menit dari SRG ke CGK, Bebek kembali ke kampung halaman. Sampai di Bandara Soetta kira-kira pukul 8:30. Dan Bebek masih harus mengantri untuk mendapatkan taksi. Kira-kira pukul 10:00 barulah Bebek sampai ke rumah dengan semangat berlebihan. 

Catatan dalam liburan kali ini, dalam perencanaan liburan yang akan datang, Bebek perlu lebih merencanakan mengenai waktu makan. Huhuhu, selama 4 hari Bebek selalu makan siang terlambat. 

Liburan Natal 2012 dan tahun baru 2013 adalah salah satu liburan terbaik dalam hidup Bebek. Selanjutnya, tanpa direncanakan Bebek melewatkan tahun baru di Pulau Pari. Cerita  malam tahun baru akan menyusul.... 

Friday, April 22, 2011

Kelenteng Tjo Soe Kong

Hari Kamis yang lalu (2011-4-21), bertepatan dengan rangkaian libur Paskah yang Bebek dapat selama 3 hari (Rabu, Kamis putih, Jumat agung), Bebek akhirnya menjalankan  rencananya untuk berkunjung (lagi) ke Kelenteng Tjo Soe Kong di tepi pantai Tanjung Kait, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Sudah lama sekali Bebek tidak pergi ke Kelenteng ini. Terakhir kali pergi ke sana (mungkin) sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Bebek ingat dulu waktu masih kecil, mungkin akhir 1980-an dan awal 1990-an, Papa Mama Bebek cukup sering membawa Bebek ke Kelenteng ini. Dan sebagai anak kecil maupun remaja, Bebek terbiasa mengikuti semua ritual atau tradisi tanpa bertanya ini-itu (Bebek bukanlah seorang anak yang kritis). Cerita turun temurun mengenai sejarah Kelenteng ini pun Bebek dengar secara sambil lalu. Bebek bahkan tidak pernah tahu sejarah Kongco Tjo Soe Kong yang Kelentengnya kami kunjungi. ^^ Begitulah. Lalu akhir tahun lalu, tiba-tiba saja Bebek teringat dengan Kelenteng ini dan memiliki keinginan untuk berkunjung kembali. Mungkin karena Bebek banyak mengenang masa-masa bersama Mama, dan Kelenteng ini merupakan salah satu bagian dari kenangan Bebek bersamanya. Bahkan pada tahun-tahun terakhirnya, Mama memiliki keinginan untuk berkunjung ke Kelenteng Tanjung Kait ini setelah dia sembuh dari sakitnya. Ehmm..., waktu itu Bebek tidak tahu kenapa dia memiliki keinginan untuk pergi ke sana setelah sembuh dari sakit. Ternyata (mungkin) karena sejarah dari Kongco Tjo Soe Kong. 

Perjalanan kali ini membuat Bebek ingin mengetahui lebih banyak sejarah mengenai Kelenteng Tanjung Kait dan Kongco Tjo Soe Kong. Kemajuan teknologi membuat kita bisa lebih mudah mendapatkan berbagai keterangan. Tapi sayang sekali, Om Google pun tidak  memberi banyak info  mengenai sejarah Kelenteng ini. Mungkin seharusnya Bebek tanya-tanya pada Encek Biokong di sana =_= bukannya tanya Om Google yang berasal dari barat. Hahaha, ironis. Tapi bagaimanapun Bebek mendapatkan cukup banyak info mengenai Kongco Tjo Soe Kong.

Gerbang Kelenteng Tjo Soe Kong
Kelenteng Tjo Soe Kong
Kelenteng Tjo Soe Kong diperkirakan dibangun atau sudah dibangun pada tahun 1792 karena pada tahun tersebut Andries Teisseire, seorang pelaut Barat mencatat adanya kelenteng ini. 
"Keberadaan bangunan tua tidak lepas dari catatan sejarah. Begitu juga dengan Kelenteng Tjo Soe Kong yang telah mengiringi perkembangan wilayah ini selama 216 tahun. Sejak dibangun pada tahun 1792, kontruksi kelenteng itu tidak berubah.
Dua pagoda setinggi enam meter di depan kelenteng menjadi ciri tersendiri Kelenteng Tjo Soe Kong ini. Dua pagoda yang dibangun bersamaan dengan dibangunnya bangunan kelenteng hingga kini sama sekali belum pernah dipugar. Selain itu, batu berbentuk nisan pemberian dari seorang warga Negara Perancis, Andreas, masih terawat rapih di dalam kelenteng. Batu nisan ini dibawa langsung dari Tiongkok pada saat kelenteng mulai dibangun." (Sumber dari sini)
Sayang sekali Bebek belum tahu mengenai batu berbentuk nisan ini pada saat berkunjung ke sana, jadi tidak sempat bertanya atau melihatnya. Penghormatan terhadap Tjo Soe Kong ini konon dirintis oleh para petani tebu di Tionghoa yang kemudian bermukim di Mauk, Tangerang. Pada zaman dulu Kelenteng ini masih berbentuk gubuk sederhana, dan menjadi awal pusat komunitas masyarakat di Mauk.

Seperti juga Kelenteng-kelenteng tua yang lainnya, Kelenteng Tanjung Kait ini juga memiliki "cerita kehebatannya" di masa lalu.  Pada tahun 1883, ketika letusan Gunung Krakatau menyebabkan terjadinya Tsunami di sepanjang pesisir pantai Tanjung Kait, semua yang berada di dekat pantai terendam banjir, kecuali kelenteng ini. Kelenteng ini telah banyak menyelamatkan banyak penduduk yang berlindung di tempat ini. Kisah luput dari Tsunami Krakatau ini diabadikan dalam lagu gambang Kramat Karam. (Sebagai tambahan, Kramat merupakan nama daerah di dekat Kelenteng). Bebek belum pernah mendengar lagu ini, tapi dari judulnya bisa berarti Kramat termasuk dalam daerah yang terkena banjir Tsunami. Kejadian ini juga diceritakan turun temurun dari orang tua ke anak, sebagian besar generasi angkatan orang tua Bebek (lahir tahun 1940-an dan generasi sebelumnya) di daerah Tangerang mengetahui kisah hebat ini dan masih menceritakannya kepada anak-anaknya. Waktu Papa-Mama membawa Bebek ke sini, mereka juga pernah menceritakan mengenai kejadian banjir besar yang menenggelamkan daerah di sekitar Kelenteng. Tapi mungkin generasi Bebek dan generasi setelah Bebek tidak banyak lagi yang tahu atau mau mengingat mengenai kisah ini. 

Menurut beberapa sumber yang Bebek baca, setelah tahun 90-an dan 2000-an jumlah umat yang datang ke Kelenteng ini menurun drastis, tapi pengurus yayasan tetap berusaha mengembalikan masa kejayaan Kelenteng ini, antara lain pada tanggal 14-16 Desember 2007 diadakan Perayaan Shejit Kelenteng dengan berbagai atraksi festival Barongsai, bazaar rakyat, gambang kromong, wayang potehi dan wayang kulit. Lalu pada tanggal 3 Desember 2008 yang juga bertepatan dengan Shejit dilakukan peletakan batu pertama oleh putra Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah untuk membangun gazebo dan taman air di halaman depan Kelenteng. Pada saat Bebek datang berkunjung, kolam air ini sudah selesai dibangun. 

Pada saat Bebek datang ke sini waktu kecil, memang banyak sekali umat yang datang bersembahyang, Bebek ingat halaman depan kelenteng yang cukup luas dipenuhi mobil-mobil. Dan yang paling meninggalkan kesan memang ada banyaknya pengemis di sekitar Kelenteng. Setiap kali ada yang memberikan uang kepada salah satu pengemis ini, teman-temannya langsung mengerubungi kami. Ini membuat Bebek takut. Biasanya setelah bersembahyang, kami pergi ke tepi pantainya untuk makan es kelapa muda. ^^

Pada saat Bebek berkunjung kembali, Bebek memang sengaja tidak datang pada saat ada perayaan atau pada saat Ce-it atau Cap-goh, karena Bebek tidak terlalu suka bersembahyang di tengah keramaian dan juga tidak terlalu tahan dengan asap hio yang memedihkan mata. Pengunjung yang ada pada saat itu awalnya hanya ada Bebek, setelah Bebek selesai sembahyang ada juga 2 orang umat lainnya yang baru tiba. Encek Biokong yang ada di sana dengan ramah mau "mengajari" dan memberitahu rute bersembahyang. Karena di Kelenteng ini selain ada Dewa Tjo Soe Kong, juga ada dewa-dewa lain. Termasuk juga ada Dewa-dewi lokal, yaitu Dewi Neng dan Empe Dato. Menurut Bebek ini merupakan bukti bahwa sejak berabad-abad yang lalu, masyarakat Tionghoa di Tangerang khususnya sudah berbaur dan memiliki hubungan yang sangat baik dengan masyarakat setempat.

Keadaan kelenteng saat Bebek datang sangat bersih dan terawat baik, beberapa pengemis masih bertaburan di halaman depan kelenteng. Tapi mereka hanya duduk-duduk atau tidur-tidur karena memang Kelenteng sangat sepi. Di samping kelenteng ada kios-kios yang tutup, Bebek rasa kalau datang pada hari libur Sabtu Minggu atau pada saat Ce-it atau Cap-goh barulah ada banyak yang berjualan di sana. Satu hal yang membuat Bebek kecewa adalah tidak ada tukang es kelapa muda di tepi pantai. Padahal sejak berangkat Bebek begitu bersemangat untuk makan kelapa muda dari tempurungnya di tepi pantai. Pruk pruk pruk.... khayalan Bebek hancur dalam sekejap. ~.~ Tidak ada pantai yang bisa dilihat, memang dari awal Bebek berpikir pantai Tanjung Kait memang bukanlah pantai yang cantik seperti pantai-pantai yang lain. Terakhir kali ke sana pun, pantai ini sudah sangat kotor. Kali ini Bebek agak lupa di mana letak pantainya dan bertanya kepada beberapa penduduk, mereka menunjukkan bagian pantai yang tidak terlihat seperti pantai. T_T Ada banyak bangunan gubuk penduduk di sekitar pantai, tidak ada pantai yang terhampar luas ataupun tukang es kelapa muda. Huhuhuhu... mungkin karena memang bukan hari libur atau karena Bebek berada di sisi pantai yang bukan untuk wisatawan? Entah. 
Oh ya, di dekat Kelenteng Tjo Soe Kong juga ada kelenteng Chi-kung yang lebih kecil. Bebek melihat dan mengunjunginya dalam perjalanan mencari pantai. 

Kelenteng Tjo Soe Kong
Salah satu pengemis yang berada di halaman Kelenteng

Kolam Air di depan halaman Kelenteng Tjo Soe Kong
Kolam air
Foto diambil hari Kamis, 20 April 2011, antara pukul 13:20 - 14:10

Sumber referensi: 

Kometar atau tambahan informasi mengenai kelenteng Tjo Soe Kong, akan diterima dengan senang hati sebagai bahan perbaikan tulisan. ^^

Saturday, March 12, 2011

Petualangan Kecil

Dalam tulisan sebelumnya, Bebek pernah menyebutkan tanggal-bulan-tahun penting dalam perjalanan kehidupan Bebek dan juga sedikit "berjanji" akan menuliskan pengalaman di balik bulan-bulan tersebut. Sesuai janji kecil itu dan juga atas request dari salah satu pembaca blog Anak Bebek's House (kyaaaa.... masih ga percaya ada orang yang mau meluangkan waktu baca blog Bebek... >.< uwaaaa......), ehem, ok, maka Bebek memutuskan untuk menceritakan petualangan kecil di bulan Desember 2010. Bebek memilih menceritakan yang terakhir terlebih dahulu, mungkin karena masih segar dalam ingatan Bebek. Atau karena yang ini memang paling mudah diceritakan. Entahlah...

Bagi sebagian besar orang mungkin ini sama sekali bukan hal yang berkesan. Biasa saja. Bukan hal penting. Bagi Bebek juga sebenarnya bukan peristiwa yang mengubah kehidupan Bebek. Tapi mungkin karena Bebek tidak punya pengalaman lain (atau sudah lupa dengan pengalaman lain, hehehehe...) Iya..iya... sebenarnya waktu Bebek ingat-ingat pengalaman hidup Bebek yang benar-benar berkesan dia cuma mendapatkan 9 saja, tapi karena istilah top nine kurang populer daripada top ten, makanya Bebek memaksakan untuk memasukkan bulan Desember 2010 ke dalam list. (Hihihiii..... *ketawa licik*). Ugh.

Cerita ini bermula dari Si Bebek yang sedang stress berat. Dia jenuh dengan aktivitasnya, merasa bosan dan mencapai tingkat kemalasan level tertinggi dalam sejarah hidupnya. Dan dia resign dari istri tuanya (sebutan Bebek untuk sidejob: istri tua dan istri muda), kemudian ditambah lagi Bebek merasa kehilangan harga diri setelah merasa dikecewakan oleh laki-laki yang Bebek sukai. Bebek perlu liburaaaaan (jeritan hati si Bebek waktu itu). Bebek ingin mencari tempat sepi terpencil, tempat Bebek kecil ini bisa bengong seharian tanpa ada orang lain yang menganggap hal itu aneh. Awalnya Bebek ingin pergi ke Bali, cari-cari tiket promo yang murah, bengong di tepi pantai seharian. Tapi Bebek baru saja resign, lebih baik kalau memilih liburan yang lebih murah. Terpikir juga pergi ke pulau terpencil nun jauh di sana, tempat pertapa suci berada untuk meminta petuah-petuah hidup (halah), tapi tiket pesawatnya juga mahal. Tiba-tiba Bebek mendapat bisikan gaib (hahaha, sebenarnya Bebek lupa kenapa bisa dapat info tentang ini, makanya disebut bisikan gaib saja). Daripada liburan, lebih baik Bebek pergi mengikuti kegiatan meditasi. Yipiiii.... kegiatan bengong yang sempurna. 
"Kegiatan Brahmacari/ni di Vihara Vipassana Graha, Lembang, Bandung, diadakan tanggal 26 Desember 2010 - 2 Januari 2011" 
Vipassana Graha
Perjalanan menuju ke Vipassana Graha merupakan sebuah petualangan kecil bagi si Bebek. Dulu waktu sekolah dan kuliah dia pernah beberapa kali pergi ke Vihara ini. Kegiatan Brahmacari juga pernah Bebek ikuti waktu masih SMP. Tapi Bebek tidak terlalu menyadari kalau ternyata kegiatan ini diadakan setiap tahun dengan tanggal yang sama. Walau bukan pertama kali pergi ke Lembang, tapi ini pertama kalinya Bebek pergi sendirian (bukan dengan rombongan tour) dan tidak naik bis bersama-sama, tapi naik angkutan umum. Bebek sama sekali tidak tahu bagaimana caranya sampai ke sana. Bebek hanya tahu, kalau mau ke Bandung, bisa naik travel Cipaganti, Bebek mulai dengan langkah pertama. Pergi ke travel Cipaganti terdekat, tanya harga tiket dan waktu keberangkatan (harga tiket 70 ribu) dan olala, Bebek lupa kalau dia harus berangkat tanggal 25 Desember (= Natal = libur = lebih banyak orang yang mau pergi ke Bandung), dan dia baru booking tanggal 24 Desember, yup, jadwal travel Cipaganti penuh semua, yang ada seat hanya jam 5 pagi. Huhuhu... Bebek tidak tahu lagi bagaimana caranya sampai ke Bandung selain dengan travel Cipaganti ini. Daftar ulang kegiatan Brahmacari jam 3 sore, jadi Bebek sebenarnya bisa berangkat lebih siang. Tapi karena tidak tahu jalan lain, ya, terpaksa Bebek booking travel jam 5. Keesokan harinya, Bebek dengan semangat 45 bangun pagi-pagi, siap dengan buku catatan (dengan niat mau tanya-tanya orang travel bagaimana cara ke Lembang dari Bandung). Minum susu sambil jalan dan ternyata, ugh, angkutan umum dari tempat tinggal Bebek menuju travel Cipaganti tidak ada sangat jarang kalau pagi-pagi (masih jam 4:20). Bebek nunggu dan nunggu sampai jam 4:50, ugh, firasat buruk, pasti telat deh, sedikit berharap travelnya suka ngaret, ternyata Bebek telat 10 menit, mobil travel sudah berangkat dan petugas travel agak jutek (mungkin karena masih subuh dan dia mengantuk atau karena dia mengira Bebek adalah salah satu orang yang memang hobi telat), jadwal untuk keberangkatan jam selanjutnya sudah di-booking semua, Bebek hanya bisa berharap kalau orang yang sudah booking itu batal berangkat. Bebek tanya sang petugas, bagaimana cara ke Bandung selain dengan Cipaganti. Jawaban dia: "tidak ada, hanya ada Cipaganti saja" (Bebek dibohongi). Sambil berharap ada seat kosong dikeberangkatan jam 6 pagi, Bebek browsing cari rencana cadangan kalau-kalau tidak dapat seat jam 6, aiiih, ternyata ada X-trans, tapi Bebek tidak tahu di mana tempatnya (setelah pulang Bebek baru tahu kalau ternyata tempat X-trans lebih dekat dari tempat Bebek daripada Cipaganti). Ya, tapi  ternyata ada rombongan (5 orang) yang batal berangkat, jadi mobil travel yang Bebek naiki hanya ada 2 orang penumpang lainnya. Dan Bebek dapat tempat di samping Bapak sopir yang super baik. Sambil makan roti sarapan, Bebek tanya-tanya bagaimana cara pergi ke Lembang dari Bandung. Sopirnya jelaskan cara ke Lembang dengan detail, warna angkot, ongkosnya berapa, turunnya di mana. Namanya siapa ya, ehmm… kalau tidak salah Bpk Sana. Agak lupa. (Semoga dia selalu menemukan jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapinya. Seperti dia membantuku menemukan jalan menuju Vipassana.) 

Bebek berangkat naik Cipaganti jam 6.00, dari Cipaganti WTC Serpong turun di Jl. Cipaganti, terus naik angkot jurusan Kalapa – Ledeng (warna angkot hijau dengan strip biru muda), turun di Jl. Setiabudi (sebelum UPI), naik angkot menuju Lembang (warna kuning muda kecoklatan), turun di pertigaan dekat rumah stroberi, dari pertigaan naik angkot warna hijau kekuningan sampai Vipassana graha, kira-kira jam 10 pagi sudah sampai Vipassana Graha, cuma 4 jam lebih perjalanan.  


Dalam latihan meditasi ini peserta juga diharuskan melakukan atthasila. Atthasila adalah sebuah latihan bagi seorang upasaka/upasika (sebutan bagi penganut agama Buddha) dalam bertekad melatih diri menghindari: 

  1. Pembunuhan makhluk hidup 
  2. Pengambilan barang yang tidak diberikan
  3. Perbuatan tidak suci
  4. Ucapan tidak benar
  5. Minuman memabukkan yang menyebabkan lemahnya kesadaran
  6. Makan makanan setelah tengah hari
  7. Menari, menyanyi, bermain musik dan pergi melihat pertunjukkan; memakai, berhias dengan bebungaan, wewangian dan kosmetik dengan tujuan untuk mempercantik tubuh
  8. Penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan mewah. 

Yup. 8 hal tersebut sedapat mungkin dihindari. Jadi selama 8 hari Bebek lebih memperhatikan langkah kaki saat berjalan, sebisa mungkin berbagi jalanan dengan para semut dan serangga-serangga kecil, untuk menghindari pembunuhan yang disengaja. Bebek sebisa mungkin tidak mencuri atau memakai apapun tanpa seizin pemiliknya. Bebek sebisa mungkin tidak bersentuhan dengan laki-laki, bahkan tidak memberikan sesuatu kepada laki-laki secara tangan-ke-tangan. Bebek juga berusaha hanya berbicara seperlunya saja, hal ini tidak terlalu sulit bagi Bebek karena memang tidak ada seorang peserta pun yang Bebek kenal pada awalnya. Yang kelima adalah tidak boleh minum alkohol (termasuk juga memakai narkoba sepertinya). Lalu Bebek juga hanya makan dua kali sehari antara jam 6 pagi - jam 12 siang (makan pagi jam 8, makan siang jam 11), makanan sudah disiapkan oleh panitia tentu saja. Yang ke 7  adalah tidak memakai kosmetik, ugh, karena di Lembang suhu udara lebih dingin daripada Tangerang, dan Bebek tidak memakai pelembab malam selama 8 hari kulit muka Bebek mulai kering dan mengelupas, huhuhuhu... sampai-sampai Bebek sebisa mungkin tidak bercermin, supaya tidak seram melihat wajahnya sendiri. Hahahahaha..... Terakhir yang ke 8 adalah tidak tidur di kasur yang mewah, panitia memang hanya menyediakan kasur matras untuk setiap peserta. 


Oh ya, sebagai tambahan kami juga menitipkan ponsel kepada panitia (walau ada juga dari peserta yang tidak mau menitipkan blackberry-nya, dan sempat-sempatnya update status FB). Ya begitulah, karena ini memang pelatihan untuk diri sendiri, bagi mereka yang memang tidak sungguh-sungguh tidak ada sanksi juga sebenarnya. Bebek sendiri berusaha sebisa mungkin melaksanakan semuanya dengan sungguh-sungguh. Hei, kapan lagi ada kesempatan mematikan ponsel, menjauhkan diri dari Facebook, chatting, tidak mendengarkan hingar bingar musik, film, tidak memikirkan pekerjaan, tidak perlu memikirkan banyak hal yang sebenarnya hanya menambah beban. Jadi, selama kegiatan ini hanya ada Bebek dan pikiran Bebek. Kesempatan menenangkan diri yang sangat bagus. 8 hari.


Kegiatan meditasinya cukup padat. Kegiatan peserta dimulai sejak pukul 5:00 dan baru kembali tidur pukul 22:00 (walau kadang lebih malam, dan pada malam tahun baru malah sampai pukul 1:00). Sebagian besar kegiatannya memang hanya meditasi, mendengarkan ceramah, baca paritta, makan, mandi, tidur. Para bhante yang membimbing kegiatan meditasi kali ini adalah: 
  1. YM. Bhante Wongsin Labhiko Mahathera
  2. YM. Bhante Boonsuk Sukhapunno Mahathera
  3. YM. Bhante Maha Wichein Mahathera
  4. YM. Bhante Weerasin Khantiko Thera
  5. YM. Bhante Kamsai Sumano Thera
  6. YM. Bhante Mahawirat Khemacari Thera
  7. YM. Bhante Subin Goshito Thera
  8. YM. Bhante Aggadipo Thera
  9. YM. Bhante Ton Dhammadhiro
  10. YM. Bhante Thitasaddho
  11. YM. Bhante Cakkhavaro
Bebek kurang baik dalam hal meditasi, karena memang sudah lama tidak melakukannya secara rutin. Huhuhu... kesemutan adalah hambatan terbesar Bebek, tapi pada hari terakhir latihan si Bebek berhasil meditasi selama 1 jam penuh tanpa menggerakkan kaki. Oh ya, di sini Bebek berkenalan dengan "Little Angel" yang uiiiih super hebat dalam bermeditasi, selama duduk dia bisa tidak bergerak selama 3 jam. Hahaha, Bebek bisa satu jam saja rasanya sudah senang. 


Rasanya kegiatan meditasi dan mengheningkan diri ini sangat sangat berguna bagi Bebek pada saat itu. Bebek yang waktu itu merasa sedang down dan entah kenapa merasa tidak puas dengan apapun yang Bebek lakukan. Mendengarkan ceramah Bhante yang entah kenapa mengena sekali untuk banyak permasalahan yang sedang Bebek pikirkan jawabannya saat itu rasanya sangat menyegarkan sekaligus menusuk (sebenarnya Little Angel bilang, materi ceramah Bhante-nya sama dengan tahun lalu, hahaha...). Atau mungkin juga karena faktor "melepas beban" yang rasanya menyegarkan. Tahu bahwa hari ini tidak ada pekerjaan, tidak ada kemarahan, tidak ada ekspektasi yang berlebihan, tidak menunggu chat dengan seseorang, tidak ada kekecewaan. Hanya perlu duduk, diam, memperhatikan nafas yang masuk dan keluar dan rasanya tenang (kalau tidak sedang kesemutan, hahaha...). 


Setelah menjalani latihan meditasi, Bebek harus berpikir bagaimana caranya pulang ke Tangerang. Hehehe, karena ponsel Bebek terlanjur diserahkan ke panitia sebelum Bebek booking travel, lagi-lagi Bebek harus dag-dig-dug karena tanggal pulang = tanggal 2 Januari = sehari setelah tahun baru = banyak orang yang juga kembali dari merayakan tahun baru di Bandung, hahahahaa..., lagi-lagi Bebek hampir tidak dapat seat. Travel Cipaganti penuh, Bebek jalan kaki di Jl Cihampelas mencari travel lain, akhirnya pulang dengan X-trans jam 17:00. Perjalanan pulang sangat macet, baru berhasil sampai tempat Bebek jam 10 malam. 


Yang paling membuat Bebek terkesan dalam petualangan kali ini adalah moment saat perjalanan pergi. Bebek punya tujuan, tapi tidak tahu bagaimana caranya mencapai tujuan tersebut, tapi tahap demi tahap, langkah demi langkah membuat tujuan Bebek semakin jelas, bantuan dari orang-orang yang Bebek temui (sopir dan para penumpang angkot) yang dengan ramah mau menunjukkan jalan untuk Bebek. Bebek jadi berpikir, mungkin selama ini si Bebek tidak mencapai apapun dalam hidupnya karena dia sendiri tidak punya tujuan. Tidak tahu dia mau melangkah ke mana. Makanya dia tidak sampai ke mana pun. Akan lebih mudah kalau si Bebek tahu mau ke mana, misalkan dia mau mencapai A, maka dia akan melakukan usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang akan membantunya mencapai A. Ya, kita perlu menetapkan apa yang sungguh-sungguh ingin kita capai, perlu tujuan. Kalau pun akhirnya karena banyaknya hambatan kita tidak berhasil mencapai A tersebut, atau mungkin dalam perjalanan menuju A malah mencapai B atau C, setidaknya kita sudah melakukan usaha dan kita mendapatkan sesuatu dalam proses pencapaian A tersebut. Akan lebih baik lagi kalau kita juga bisa menikmati perjalanan mencapai A tersebut. Bukan sekedar hasil, proses menuju ke sesuatu kadang malah lebih menyenangkan, lebih memacu semangat daripada moment saat kita sudah sampai tujuan. Ya, ini salah satu hal yang membuat petualangan kecil Bebek berkesan. Ehmm... satu lagi, perjalanan kali ini juga semacam "pembuktian diri" bahwa Bebek bisa melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri dan berhasil. Karena Bebek mengalami banyak kegagalan akhir-akhir ini ('kegagalan' dalam banyak arti). Sehingga moment ini bisa menjadi titik balik dalam kehidupan Bebek, perubahan arah menjadi uptrend (semoga).


Sebenarnya ada banyak hal lain yang Bebek rasakan dalam pelatihan meditasi kali ini yang belum bisa Bebek ceritakan, karena keterbatasan daya ingat. Hahahahaha.... 




Waktu Latihan


Bebek di hari terakhir pelatihan meditasi, difoto oleh Little Angel